solahudin.com

Ketika Toleransi dengan Syarat

Bagikan dengan:

Sebuah tulisan keluar dari benak seseorang yang bodoh. Sekiranya salah mohon diluruskan.

Membawa potongan ayat yang terkandung dalam Al-Qur’an Surat An-nahl ayat 93, berbunyi:

وَلَوْ شَاۤءَ اللّٰهُ لَجَعَلَكُمْ اُمَّةً وَّاحِدَةً وَّلٰكِنْ يُّضِلُّ مَنْ يَّشَاۤءُ وَيَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَلَتُسْـَٔلُنَّ عَمَّا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ

“Dan jika Allah menghendaki niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Dia menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Tetapi kamu pasti akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan”.

Toleransi dalam KBBI; menghargai, membiarkan, membolehkan pendirian, pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dan sebagainya yang berbeda atau bertentangan.

Lalu apa permasalahannya? Toleransi sering kita praktekan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, toleransi versi itu biasanya memiliki syarat. “Boleh, silahkan asal jangan diulangi lagi, kali ini saya kasih kamu toleransi”.

Toleransi kerap menjadi perdebatan dalam kehidupan beragama, bahkan toleransi menurut sebagian tokoh menjadi kata yang memiliki musim. Pada momentum Idul Fitri ada toleransi, pada momentum Natal ada toleransi. Kata itu keluar dari Presiden Nusantara Fondation, Shamsi Ali.

“Dalam pandangan Islam, toleransi adalah bagian dari keyakinan. Toleransi bukan sekadar memberikan ruang kepada pemeluk agama lain untuk meyakini dan menjalankan keyakinan mereka, melainkan menerima (acceptance) eksistensi mereka sebagai bagian dari sunnatullah (keputusan Allah),”

Dalam konteks beragama, toleransi selalu menjadi problem. Ya seperti tadi ‘komitemen musiman’. Padahal “Toleransi adalah bagian dari keyakinan. Toleransi bukan sekadar memberikan ruang kepada pemeluk agama lain untuk meyakini dan menjalankan keyakinan mereka, melainkan menerima (acceptance) eksistensi mereka sebagai bagian dari sunnatullah (keputusan Allah)” masih kata Shamsi Ali.

Kehidupan sosial beragama, beberapa orang merasa ironis dengan ketidak-selarasan faham toleransi di masyatakat, toleransinya hanya sebuah wajah ramah yang penuh syarat (unconditional hospitality).

Banyak kasus, ketika golongan agama A ingin mendirikan rumah ibadah. Harus melalui beberapa tahap perdebatan untuk mendapat nilai toleransi tersebut. Penganut Agama A menjadi tamu di negerinya sendiri.


Bagikan dengan:
__Terbit pada
23/03/2021
__Kategori
Ngotak